Wednesday, August 5, 2015

Situ Bagendit

Bagi kebanyakan orang yang sempat merasakan bersekolah dasar di Indonesia, tentu tidak akan asing lagi mendengar Situ Bagendit. Terutama legendanya yang fenomena dan sering berada di buku Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Berikut salah satu versi legenda dari Situ Bagendit:

 Dahulu, hiduplah seorang janda kaya raya yang telah ditinggalkan suaminya. Ia memiliki kekayaan dan tanah yang luas yang diwariskan dari suaminya. Sebelumnya, suaminya memiliki pekerjaan sebagai rentenir. Kini, janda muda tersebut melanjutkan pekerjaan suaminya. Ia dikenal sebagai orang yang kikir oleh masyarakat di sekitarnya karena tiap kali ada warga yang meminta tolong atau bantuan kepadanya, ia selalu menolaknya. Ia dipanggil Bagenda Endit yang memiliki arti orang kaya yang pelit. Bagenda Endit juga sering kali memberi pinjaman kepada warga dengan bunga yang amat tinggi, serta tempo yang singkat. Resikonya, ketika warga tidak mampu membayarnya, tanah yang mereka jadikan jaminan akan menjadi miliknya.

    Suatu hari, datanglah seorang wanita yang sedang menggendong bayi kepada Bagenda Endit. Wanita tersebut meminta bantuan karena anaknya sudah dua hari tidak makan. Bukannya membantu, Bagenda Endit justru mengambil air dan menyiram wanita tersebut. Keesokan harinya, beberapa warga datang ke Bagenda Endit untuk meminta air dari sumurnya karena pada saat itu, hanya dialah yang memiliki sumur yang dalam dengan air yang melimpah. Sumber air lainnya bagi desa tersebut, yakni sungai, jaraknya lumayan jauh. Namun, lagi-lagi Bagenda Endit melarang mereka untuk mengambil air dari sumurnya.

    Tak lama kemudian, datanglah seorang kakek dengan langkah pendek lambatnya yang ditopang oleh sebuah tingkat untuk menyeimbangi tubuhnya ke rumah Bagenda Endit. Ia datang untuk meminta air sekedar untuk diminum. Namun, seperti biasa, Bagenda Endit menolaknya. Si kakek terus memohon untuk seteguk air hinggi akhirnya Bagenda Endit menghampirinya, kemudian mengambil tongkatnya, dan melempar tongkat tersebut. Si kakek pun terjatuh. Dengan upaya yang kuat, kakek tersebut berusaha mengambil tongkat tersebut. Kemudian, ia menancapkan tongkat tersebut ke tanah, dan menariknya kembali.

    Alhasil, lubang bekas tongkat yang ditancapkan kakek tersebut mengeluarkan air. Air tersebut terus mengucur dan secara perlahan membanjiri desa. Sementara para warga sibuk mengungsi, Bagenda Endit justru sibuk menyelamatkan harta kekayaannya. Ia terus berteriak untuk pertolongan. Sayangnya, desa sudah kosong. Akhirnya, ia terendam dalam banjir tersebut bersama harta-harta kekayaannya. Kini, tempat tersebut dinamakan Situ Bagendit (Danau Bagenda Endit).



     Situ Bagendit berlokasi di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Ketika mendengar nama Situ Bagendit, saya langsung teringat akan legendanya, dan penasaran mendatanginya secara langsung. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Garut. Suasananya cukup nyaman dan sepi ketika saya mendatanginya. Namun, menurut petugasnya, ketika hari libur, tempat ini cukup ramai. Saya mendatanginya pada Selasa, 28 Juli 2015. Tiket masuknya seharga Rp. 5.000. Namun, ada jalur lewat samping sehingga kita tidak perlu membayar, tapi apalah artinya membayar Rp. 5.000 jika itu memang dipergunakan untuk pengembangan fasilitas dan kebersihan. Sayangnya, kebersihan daerah sini justru kurang terjaga.



  Terdapat banyak tukang jajanan di sekitar sini, dan tempat penyewaan perahu berbentuk bebek/angsa/paus untuk berkeliling danaunya. Harganya berkisar Rp. 15.000 (sepuasnya) hingga Rp. 20.000/jam, bergantung bagaimana anda menawarnya. Salah satu makanan favorit saya di sini ialah rujak tumbuk seharga Rp. 5.000/gelas plastik.

No comments:

Post a Comment