Bagi kebanyakan orang yang sempat merasakan bersekolah dasar di Indonesia, tentu tidak akan asing lagi mendengar Situ Bagendit. Terutama legendanya yang fenomena dan sering berada di buku Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Berikut salah satu versi legenda dari Situ Bagendit:
Dahulu, hiduplah seorang janda kaya raya yang telah ditinggalkan suaminya. Ia memiliki kekayaan dan tanah yang luas yang diwariskan dari suaminya. Sebelumnya, suaminya memiliki pekerjaan sebagai rentenir. Kini, janda muda tersebut melanjutkan pekerjaan suaminya. Ia dikenal sebagai orang yang kikir oleh masyarakat di sekitarnya karena tiap kali ada warga yang meminta tolong atau bantuan kepadanya, ia selalu menolaknya. Ia dipanggil Bagenda Endit yang memiliki arti orang kaya yang pelit. Bagenda Endit juga sering kali memberi pinjaman kepada warga dengan bunga yang amat tinggi, serta tempo yang singkat. Resikonya, ketika warga tidak mampu membayarnya, tanah yang mereka jadikan jaminan akan menjadi miliknya.
Suatu hari, datanglah seorang wanita yang sedang menggendong bayi kepada Bagenda Endit. Wanita tersebut meminta bantuan karena anaknya sudah dua hari tidak makan. Bukannya membantu, Bagenda Endit justru mengambil air dan menyiram wanita tersebut. Keesokan harinya, beberapa warga datang ke Bagenda Endit untuk meminta air dari sumurnya karena pada saat itu, hanya dialah yang memiliki sumur yang dalam dengan air yang melimpah. Sumber air lainnya bagi desa tersebut, yakni sungai, jaraknya lumayan jauh. Namun, lagi-lagi Bagenda Endit melarang mereka untuk mengambil air dari sumurnya.
Tak lama kemudian, datanglah seorang kakek dengan langkah pendek lambatnya yang ditopang oleh sebuah tingkat untuk menyeimbangi tubuhnya ke rumah Bagenda Endit. Ia datang untuk meminta air sekedar untuk diminum. Namun, seperti biasa, Bagenda Endit menolaknya. Si kakek terus memohon untuk seteguk air hinggi akhirnya Bagenda Endit menghampirinya, kemudian mengambil tongkatnya, dan melempar tongkat tersebut. Si kakek pun terjatuh. Dengan upaya yang kuat, kakek tersebut berusaha mengambil tongkat tersebut. Kemudian, ia menancapkan tongkat tersebut ke tanah, dan menariknya kembali.
Alhasil, lubang bekas tongkat yang ditancapkan kakek tersebut mengeluarkan air. Air tersebut terus mengucur dan secara perlahan membanjiri desa. Sementara para warga sibuk mengungsi, Bagenda Endit justru sibuk menyelamatkan harta kekayaannya. Ia terus berteriak untuk pertolongan. Sayangnya, desa sudah kosong. Akhirnya, ia terendam dalam banjir tersebut bersama harta-harta kekayaannya. Kini, tempat tersebut dinamakan Situ Bagendit (Danau Bagenda Endit).
Situ Bagendit berlokasi di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Ketika mendengar nama Situ Bagendit, saya langsung teringat akan legendanya, dan penasaran mendatanginya secara langsung. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota Garut. Suasananya cukup nyaman dan sepi ketika saya mendatanginya. Namun, menurut petugasnya, ketika hari libur, tempat ini cukup ramai. Saya mendatanginya pada Selasa, 28 Juli 2015. Tiket masuknya seharga Rp. 5.000. Namun, ada jalur lewat samping sehingga kita tidak perlu membayar, tapi apalah artinya membayar Rp. 5.000 jika itu memang dipergunakan untuk pengembangan fasilitas dan kebersihan. Sayangnya, kebersihan daerah sini justru kurang terjaga.
Terdapat banyak tukang jajanan di sekitar sini, dan tempat penyewaan perahu berbentuk bebek/angsa/paus untuk berkeliling danaunya. Harganya berkisar Rp. 15.000 (sepuasnya) hingga Rp. 20.000/jam, bergantung bagaimana anda menawarnya. Salah satu makanan favorit saya di sini ialah rujak tumbuk seharga Rp. 5.000/gelas plastik.
Wednesday, August 5, 2015
Persaudaraan Indonesia dan Filipina
Kelompok Helobung sedang mempertunjukkan tarian dan nyayian
tradisional mereka sebagai representasi dari Filipina di Cihampelas Walk pada
Kamis, 23 April 2015 pada perayaan KAA yang ke-60 tahun.
|
Alunan nada dari alat-alat musik tradisional Filipina memecahkan malam di Cihampelas Walk yang sedang ramai akan pengunjung dari beraneka latar belakang, delegasi dari berbagai negara, wartawan dari bermacam-macam media, serta relawan dengan variasi warna kaos sebagai representasi kedudukannya. Mereka semua menikmati satu hal, penampilan dari perwakilan negara Filipina sebagai bentuk partisipasi dalam perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke enam puluh. Di umur yang ke enam puluh, pastilah KAA memiliki banyak cerita yang ingin disampaikan kepada cucu-cucunya, generasi muda yang sekarang memiliki kekuatan untuk mempertahankan relasi antar negara serta kebudayaan yang merupakan turunan dari leluhur. Hubungan dengan Filipina merupakan satu di antaranya. Selain dari posisi negara yang sama-sama kepulauan dan saling berdekatan, Indonesia memang memiliki banyak kemiripan dengan Filipina. Mulai dari bentuk pemerintahan yang sama-sama presidensial, serta kepala pemerintahan yang berperan sebagai kepala negara, hingga beberapa kebudayaan dan bahasa yang mirip.
Suara wanita dalam busana khas suku T’Boli dari Mindanao, Filipina Selatan, mengikuti alunan musik. Wanita dalam busana corak tribal dengan dominasi warna merah dan hitam ini kemudian melepas mike, berdiri, dan mulai menari dengan setiap lekukan tubuhnya yang mengikuti hentaman sebuah drum kecil dari kayu dan petikan dari hegelung, sebuah alat musik serupa dengan gitar yang terbuat dari kayu dan memiliki dua senar, satu senar untuk menghasilkan melodi dan senar lainnya untuk menghasilkan dengungan. Tak lama seorang pria ikut berdiri di sampingnya mengikuti elokan dari si wanita sambil membawa sebuah senjata yang mirip dengan golok.
Tarian ini dibawakan oleh tim yang dinamakan Helobung. Nama ini diambil dari sebuah festival tahunan di Mindanao. Dalam alurnya, tarian ini memiliki makna dan merepresentasikan kehidupan. Mereka mengimitasikan tarian dari Putri mereka. Tarian yang mereka bawakan biasanya selalu memiliki satu jalan cerita. Dalam kehidupannya , mereka masih sangat menghargai warisan-warisan dari leluhurnya, terutama hal-hal yang berbentuk budaya, musik, dan tarian. Budaya ini terus mereka diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka juga mempercayai dan menghargai roh-roh leluhur, serta lingkungan.
Tarian tersebut mereka persiapkan hanya dalam kurun waktu dua minggu. Hal ini terhitung cepat dan bukan sesuatu yang sulit bagi mereka. Semua anggota dalam tim pertunjukan ini memang dapat dikatakan sudah handal. Hal tersebut dapat dilihat dari jam terbang serta pengalaman mereka yang sudah pernah keliling Amerika Serikat, Singapore, dan sebagainya untuk memberikan pertunjukan.
“Saya sudah belajar sejak lahir karena saya dilahirkan dalam budaya yang dekat dengan musik dan tarian, serta saya berasal dari keluarga seniman. Anggota yang lain juga kebanyakan begitu,” kata Nenita Kinan, salah satu anggota dari Helobung. Nenita percaya Filipina dan Indonesia memiliki kesamaan dalam kekayaan budaya, serta memiliki beberapa budaya yang mirip. Hal ini pula yang menurutnya menjadi salah satu faktor yang menimbulkan hubungan yang baik antara kedua negeri penghasil padi ini.
Remedios B. Alcazar, selaku officer di delegasi Filipina, mengaku senang dengan Helobung yang dipilih untuk menampilkan sisi budaya dari Filipina. Menurut Remedios, di Filipina, terutama di bagian kota-kota besar, sudah hampir pudar dan tidak terlihat budaya asli dari Filipina. Terlebih dengan dijajahnya Filipina oleh negara-negara dengan kebudayaan yang beraneka ragam pula seperti Spanyol dan Amerika. Namun, Helobung, selaku anggotanya yang berasal dari suku T’boli, posisinya dapat dikatakan cukup jauh dari perkotaan sehingga budaya yang dimiliki hingga kini masih kental. Ia berharap melalui suku T’Boli ini, kebudayaan yang masih ada dapat terus dipertahankan.
Helobung tampil atas undangan dari Komite Nasional bagian seni dan budaya di Filipina. Mereka dipilih karena dianggap masih memiliki tradisi yang kuat dan masih dijalankan hingga kini. Helobung juga berharap melalui dipilih dan tampilnya mereka, kebudayaan mereka dapat terus dilestarikan dan dipromosi kedepannya.
Tampilnya representasi dari Filipina seolah mengingatkan pada kehadiran Narsisco Ramos, selaku Menteri Luar Negeri Filipina di Konferensi Asia Afrika 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Sebuah Konferensi yang melahirkan Dasasila Bandung yang hingga kini masih dipatuhi baik Indonesia maupun Filipina. Hubungan Indonesia dengan Filipina juga dilanjutkan dengan pembentukan ASEAN dua tahun kemudian masih oleh perwakilan yang sama yaitu Narsisco Ramos pada 8 Agustus 1967.
Ketika membicarakan soal hubungan Indonesia dengan Filipina, Remedios menggambarkan hubungannya ibarat saudara. Memiliki kedekatan dan banyak kesamaan. Ikatan darah juga melahirkan hubungan yang harmonis.
Dikutip dari Kompas Travel, budaya Filipina memang memiliki beberapa kemiripan dengan budaya masyarakat Sulawesi Utara, mulai dari tarian hingga makanan. Beragam kesamaan ini dapat diakibatkan oleh faktor kedekatan jarak.
Kebudayaan Minahasa merupakan salah satu dari berjuta warna kebudayaan yang menghiasi Indonesia. Kemiripannya dengan kebudayaan Filipina kemudian diteliti oleh para antropolog. Menurut mereka, hal tersebut diakibatkan oleh hijrahnya orang-orang Filipina pada abad ke-16 ke Sulawesi untuk mengadakan perdagangan. Saat itu penduduk asli Minahasa disebut kaum Malesung. Orang-orang Filipina tersebut kemudian membentuk koloni dan membaur dengan masyarakat setempat. Akulturasi yang terjadi juga akibat dari proses persinggungan yang cukup lama. Tak hanya bahasa dan budaya yang mirip, cerita rakyat, legenda, maupun mitos di antara masyarakat Sulawesi Utara dan Filipina memilik banyak kemiripan.
Remedios juga mengatakan bahwa secara fisik masyarakat Filipina juga mirip dengan beberapa bagian masyarakat Indonesia. Ia menunjuk ke arah mukanya yang menurutnya sangat Filipina dan mirip orang Indonesia sambil tersenyum. Bentuk wajahnya bulat, rambutnya lurus, alisnya tipis, dan kulitnya putih langsat. Persaudaraan antara Indonesia dengan Filipina yang dimaksud oleh Remedios ternyata tidak sebatas hubungan dan budaya, tapi juga kemiripan secara fisik.
Penampilan musik dan tarian bercerita dari Helobung ditutup dengan ucapan terima kasih. Anggota Helobung kemudian di kawal ke tempat istirahat. Masyarakat langsung dengan antusias mendatangi booth tempat mereka beristirahat. Mereka silih berganti meminta foto bersama satu tim yang terdiri dari empat pria dan empat wanita ini. Beberapa orang juga secara bergantian meminta wawancara dengan anggota Helobung yang masih memiliki aksen T’boli atau Tagabili yang kental sebagai bahasa ibu mereka. Para wanita rambutnya diikat dan digulung kencang seperti dikonde, kemudian memakai aksesoris di bagian kepala yang seirama dengan kalung dan pakaian mereka. Mereka menjelaskan kepada pengunjung yang bertanya apa nama-nama dari alat musik tradisional mereka, seperti kumbing, sebuah alat musik tiup yang bentuknya sangat sederhana dan kecil hanya segaris kayu, terbuat dari bambu. Cara pemakaiannya juga sederhana, hanya menaruhnya di bagian bibir dalam, lalu meniupkan bagian tengah sambil memukul bagian ujungnya.
Malam panjang di Ciampelas Walk ditutup dengan penampilan tarik suara dari Indonesia. Seluruh pengunjung yang berada depan panggung, serta para relawan heboh berdendang dan berjoget mengikuti irama dari suara wanita muda Indonesia dalam gaun putih-kuningnya.
Subscribe to:
Comments (Atom)